( Mama, papa, koko, cece, diko, atin dan diriku saat H-1 imlek tiap tahunnya )

Mama dan papaku memberikan warisan akan suatu habit (kebiasaan) yang begitu berharga.
Sejak kecil, mama dan papa selalu menyiapkan celengan-celengan buat anak-anaknya. Setiap anak pasti memiliki satu buah celengan. Setiap hari sabtu sore, seusai papa membereskan semua urusan keuangan di toko, papa selalu menyiapkan beberapa lembar uang untuk dimasukkan ke celengan. Aku yg memiliki kebiasaan sering duduk dekat-dekat kasir toko selalu diminta memasukkan lembaran-lembaran uang ke setiap celengan-celengan yg ada. Dan aku sudah hafal milik celengan setiap orang. Posisi celengan-celengan itu terletak di bawah laci kasir. Kadangkala aku suka memasukkan uang receh ke dalam celenganku. Sehingga terdengar suara gemercing. Sesekali ku goncang-goncangkan celengan dan suara gemercing uang koinpun kedengaran.
Papa dan mama membekali kami dengan kebiasaan menabung sejak kecil. Sedikit-sedikit lama-lama menjadi bukit, begitulah istilah orang-orang. Hari yang ditunggu-tunggu seorang anak kecil yang masih polos adalah hari imlek. Karena semuanya menjadi serba baru pada saat imlek. Memakai baju baru, sandal baru, dan lain sebagainya. Dan yg sering diidam-idamkan adalah penerimaan Angpau dari papa mama. Telah menjadi kebiasaan bagi keluargaku, pada H-1 Imlek, seusai papa mama membereskan semua hal toko, papa akan membawakan celengan-celengan yg hampir terisi penuh untuk dibongkar bersama. Kami duduk bersama, menghitung jumlah uang celengan masing-masing dan ditemani papa mama tercinta. Papa mama tidak hanya menasehati kami untuk menabung, tetapi mereka menanamkan nilai-nilai yang positif di dalam diri anak-anaknya. Keuletan, ketekunan, kejujuran, disiplin, pantang menyerah, dan mau berusaha, merupakan sikap-sikap yang papa mama yang perlu diacungkan tangan.
Karena kebiasaan menabung dari kecil inilah yang membuat kami anak-anak dari papa mama dapat kuliah di tanah Jawa. Terima kasih papa, terima kasih mama.

foto keluarga