Biasanya, bagi seorang anak perempuan yang sudah dewasa, yang sedang bekerja diperantauan, yang ikut suaminya merantau di luar kota atau luar negeri, yang sedang bersekolah atau kuliah jauh dari kedua orang tuanya. Akan sering merasa kangen sekali dengan Mamanya. Lalu bagaimana dengan Papa?Mungkin karena se-gender sama mama, jadi mungkin lebih dekat dengan mama.
Tapi ternyata Papa begitu menyayangiku. Mungkin dulu sewaktu aku kecil, Mama-lah yang lebih sering mengajarkan banyak hal seperti menabung, dan lain-lain. Ketika aku sakit, Papa yg setelah selesai bekerja dan dengan wajah lelah Papa selalu menanyakan pada Mama tentang kondisiku dan apa yang ku lakukan seharian. Pada saat diriku masih seorang anak perempuan kecil. Papa biasanya mengajariku naik sepeda. Dan setelah Papa mengganggapku bisa, Papa akan melepaskan roda bantu di sepedaku. Papa dengan yakin akan membiarkanku, menatapku, dan menjagaku mengayuh sepeda dengan seksama karena dia tahu putri kecilnya PASTI BISA. Saat aku demam dan sakit pilek, Papa yang selalu membawa aku ke dokter dan mempersiapkan obat-obat untuk ku makan. Aku agak sulit menelan butiran obat. Papa akan menghancurkan dulu obat-obat yg ada menjadi bubuk, lalu diletakkan di sendok, ditambahin air dan juga sedikit gula (aku gak suka dengan rasa obat yg pahit sehingga papa memberikan gula sedikit), kemudian aku minum cairan obat itu. Saat aku sakit, Papa benar-benar mengkhawatirkan keadaanku.
Ketika aku sudah beranjak remaja. Aku mulai keluar malam, dan papa akan menungguku hingga aku pulang. Meskipun kadangkala, saat ku pulang, beliau sedang berbaring, ternyata beliau belum tidur karna menungguku dan memastikan aku pulang dengan selamat. Papa melakukan itu untuk menjagaku, karena bagi Papa, aku adalah sesuatu yang sangat – sangat luar biasa berharga baginya. Papa mengatakan padaku, Harapanku ada pada dirimu.

Ketika mendengar aku lulus ujian masuk ITB, papa sangat senang dan terharu. Matanya terkaca-kaca melihatku. Masih ku ingat momen-momen penuh keharuan itu. Ketika ak menjadi juara olypiade tingkat kabupaten, dan harus ikut training dan seleksi tingkat provinsi, aku harus ke pekanbaru. Hal yg pertama kali ditanyakan adalah bersama siapa aku ke pekanbaru, guru pembimbingku adalah bapak atau ibu. Berapa orang cowok dan berapa org cewek yg ikut, Papa begitu mengkhawatirkanku.

Terkadang, aku pulang agak telat, dan lupa memberi tahu dulu ke papa kemana aku pergi setelah aktivitas akademik. Ketika melihat aku pulang, Papa dan mama akan mengeras, memarahiku. Mereka begitu khawatir. Sejak itu, aku selalu ingat untuk memberitahu kalau-kalau aku harus ke suatu tempat, atau ada kegiatan lain. Karena hal yang di sangat ditakuti Papa adalah terjadi sesuatu yg tidak diinginkan pada anaknya.

Setelah lulus SMA, aku ingin melanjutkan kuliah diluar kota. Dan Papa menyetujuinya, tapi dihati kecil beliau, beliau begitu khawatir. Berkali-kali beliau mengingatkan untuk berhati-hati saat menyebrang jalan saat di luar kota, jangan lupa kunci pintu kamar kos saat mau tidur, jangan keluar malam, dan ikutilah orang2 yang baik.

Ketika aku mengatakan, aku ingin makan nasi goreng masakan Papa, beliau begitu semangat dan langsung mulai memasak nasi goreng. Nasi goreng buatan papa begitu enak, dan menakjubkan. Mungkin karena dimasak dengan pikiran yg penuh dengan kasih sayang pada anaknya.

Saatnya aku diwisuda sebagai seorang sarjana. Papa tidak bisa hadir waktu itu, tapi ku yakin jikalau waktu itu Papa hadir diwisudaku, beliau adalah orang pertama yang berdiri dan memberi tepuk tangan untukku ketika mendengar aku lulus dengan predikat cumlaude. Papa akan tersenyum dengan bangga dan puas melihat “putri kecilnya berhasil tumbuh dewasa, dan telah menjadi seseorang sarjana.

Ketika aku menjadi gadis dewasa. Dan aku harus pergi kuliah di negara lain, Papa harus melepasku di pelabuhan, dan menyampaikan berbagai jenis pesan-pesan padaku, dan ketika kapal akan segera berangkat, barulah papa mulai keluar dari kapal, sambil sedikit menepuk bahuku. Beliau menunggu hingga kapal yg ku naiki berjalan agak jauh, barulah beliau beranjak dari pelabuhan. Sambil melambai-lambaikan tangan, dan menatapku.
Ketika aku meminta untuk foto bersama papa sebelum aku berangkat, beliau begitu semangat, aku memeluknya, sepertinya beliau ingin sekali memelukku erat-erat, seperti aku memeluk mamaku. Ketika ku lihat secara mendalam wajah papa, ak menyadari beliau sudah berusia lanjut. Beliau sudah bekerja keras membesarkan anak-anaknya.

Ketika aku sudah jauh dari kota Bengkalis, ku pikir yg Papa lakukan hanya menghapus sedikit air mata di sudut matanya, dan berkata dalam hati, “Jaga dirimu baik-baik ya, sayang”. Papa mengizinkan aku untuk merantau ke negara lain, itu semua agar aku kuat,…kuat untuk pergi dan menjadi dewasa.

This story actually from my friend’s writing, I just edit it according to my experience with my dad.
Dad, I love you.
Gan En