Dalam hidup ini ada perkara besar, istimewa dan luar biasa, kesanalah
biasanya perhatian tertuju. Tetapi seringkali dari perkara kecil,
sederhana dan biasapun kita bisa mendapatkan hikmah.

Misalnya dari sebatang lilin, jika pada suatu malam listrik padam,
cobalah kita amati apa yang terjadi pada sebatang lilin tersebut,
sumbunya terbakar, batangnya meleleh, hanya dengan kerelaan meleleh
itu lilin tersebut bisa berfungsi memberi terang.

Untuk memberi terang, sebatang lilin harus berkorban, ia meleleh, ia
menjadi pendek. Seandainya lilin itu tidak mau meleleh dan tidak mau
menjadi pendek, maka ia tidak bisa bersinar. Lilin yang mau memenuhi
perannya adalah lilin yang rela meleleh. Sebatang lilin hidup bukan
untuk dirinya sendiri, ia memberi diri.

Terang yang diberikan oleh sebatang lilin adalah kecil saja, berbeda
dengan lampu pijar atau lampu sorot yang memberi cahaya terang
benderang, berkilau-kilauan dan gemerlapan. Lilin memberi terang yang
secukupnya, namun ketika tiba-tiba listrik padam, sebatang lilin sudah
cukup untuk menolong kita bisa melihat dimana pintu dan dimana
jendela.

Kita adalah ibarat lilin, kita hidup bukan untuk diri kita sendiri.
Sebagaimana orang lain telah hidup untuk kita, begitulah kita hidup
juga untuk orang lain. Seperti sebatang lilin, kita eksis untuk
menjadi terang, untuk menjadi lilin yang memberi terang, kita harus
rela meleleh.

Sinar sebatang lilin biasa-biasa saja, cahayanya kecil, tetapi ia
bersinar dengan setia, diam-diam tanpa gembar-gembor, lilin itu
memenuhi perannya dengan setia, menjadi terang dan memberi terang.

Mungkin dalam hidup kita, pelayanan kita kepada orang lainpun
biasa-biasa saja, tidak istimewa, tidak luar biasa, tidak hebat dan
kita tidak punya kedudukan, tetapi dengan hidup bagaikan lilin, maka
kita akan menjadi terang dan dengan begitu akan memberikan terang
kepada lingkungan kita.

Lilin itu bersinar terus, sumbunya terbakar dan batangnya meleleh, dan
akhirnya sumbu dan batangnya akan habis, lilin itu akan padam, tetapi
itu tidak berarti bahwa lilin itu gagal dan sia-sia, justru
sebaliknya, lilin itu telah menjalankan perannya dengan baik dan
berdaya guna.

Seperti batang lilin, hidup dan pelayanan kita juga pada suatu waktu
akan berakhir, ada waktu untuk menyala dan ada waktu untuk padam.
Nantipun ada lilin-lilin lain yang akan menggantikan dan meneruskan
kita, tetapi selama kita masih bisa bersinar, bersinarlah terus,
menjadi terang sebisanya dan menjadi cahaya seadanya.

Terus bersinar sampai sumbu dan batang yang penghabisan.

E.D. [Semaggi-phala]